BacaIn


Wednesday, 8 November 2023

no image

Kura-Kura dan Kelinci Lomba Lari


Suatu pagi, di sebuah hutan, kelinci dan kura-kura bertemu dekat sebuah sungai. Mereka berjemur dan mengobrol. Kelinci mulai membangga-banggakan dirinya sendiri.

“Kura-kura, kau tahu? Aku adalah pelari tercepat di dunia,” kata kelinci sombong.

Kura-kura tidak suka mendengar kesombongan kelinci. “Benarkah? Kurasa aku pun bisa mengalahkanmu adu lari.” timpalnya.

Kelinci tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan kura-kura. “Jalanmu saja sangat lambat, mana bisa kamu berlari cepat,” kata kelinci.

“Eh, sembarangan. Ayo kita buktikan. Temui aku besok di sini! Aku akan memakai bulu putih di kepalaku agar kau bisa melihatku berlari di antara rumput yang tinggi itu. Kita adu lari melewati empat bukit. Siapa yang mencapai bukit keempat lebih dulu, dia yang menang. Bagaimana? Kau berani?” tantang kura-kura.

Kelinci semakin tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, baiklah jika itu maumu. Akan kubuktikan bahwa aku pelari tercepat di dunia. Bukan kau.”

“Oke! Aku juga akan buktikan,” kata kura-kura mantap. Sebenarnya kura-kura tahu ia tidak akan menang adu lari melawan kelinci. Tapi, ia ingin memberi pelajaran kepada kelinci yang sombong.

Akhirnya, sang kura-kura pulang ke rumahnya dan menyiapkan sebuah siasat. Ia pun mengumpulkan keluarganya. Saudara-saudaranya tersebut diharuskan memakai bulu putih di kepala mereka dan mengambil posisi di jalur lomba lari. Ada yang bersiap di lembah, ada yang bersiap di atas bukit, dan ada di tempat lain yang sudah ditentukan. Sementara, ia sendiri bersiap di bukit keempat.

Keesokan harinya, kelinci datang ke pinggir sungai dengan percaya diri. Ia melihat bulu putih di antara rumput yang tinggi. “Wah, kelihatannya kura-kura sudah siap,” pikir kelinci.

“Siap, awas, mulai!” teriak kelinci. Kelinci pun segera berlari menuju bukit pertama. Sementara, Kura-kura tertinggal jauh di belakang.

Saat kelinci hampir mencapai bukit pertama, ia kaget melihat kura-kura sudah berada di atas bukit. Tidak radar bahwa ia sedang dikerjai kura-kura, kelinci menambah kencang larinya dan berhasil mendahului kura-kura di atas bukit pertama. Namun, saat menuruni bukit, kelinci kembali melihat kura-kura sudah berada di lembah.

Kelinci semakin mempercepat larinya menyusul kura-kura di lembah. Tapi, menjelang bukit kedua, lagi-lagi kelinci mendapati kura-kura telah mendahuluinya berada di atas sana. Begitu seterusnya hingga di lokasi ketiga. Kelinci selalu mendapati kura-kura telah ada di depannya, di sepanjang jalur lomba.

Akhirnya, kelinci sudah tinggal sedikit lagi mencapai bukit keempat. Ia yakin bisa mengalahkan kura-kura yang sudah tertinggal di lembah ketiga. Tapi, betapa terkejutnya kelinci saat melihat kura-kura sudah duduk bersantai di bukit keempat.

“Aku menang, aku menang,” seru kura-kura kegirangan. Akhirnya, kura-kura menang karena kecerdikannya. Kelinci pun hanya bisa kebingungan dan malu.

no image

Kancil dan Kura-Kura


Di suatu pagi yang cerah, terlihat kancil sedang memandang kebun sayur. Sudah cukup lama, ia menanti sayuran. Sekarang, kancil siap memanen sayuran yang telah ditanamnya. 

"Wah, akhirnya aku dapat makan sayur sebanyak-banyaknya," ujar kancil dengan gembira. 

Setelah merasa kenyang, kancil lalu beranjak pergi menuju sungai untuk minum. 

Di tengah perjalanan menuju sungai, kancil melihat teman-temannya, yaitu kerbau, ibu rusa, dan kura-kura yang sedang berkumpul. 

Kancil bergumam, "Ada apa ini? Kelihatannya kerbau dan ibu rusa sangat akrab dengan kura-kura. Wah, aku harus mencari tahu."

Sepanjang jalan menuju sungai ia berpikir tentang teman-temannya yang ditemui tadi. Sesampainya di sungai, kancil pun minum. 

"Hmmm, segar," kata kancil setelah meminum air sungai beberapa kali. 

Seperti rencananya tadi, kancil bergegas kembali menuju teman-temannya yang ia temui. 

"Sekarang, aku akan menemui kerbau," ucapnya. 

Kancil pun menghampiri kerbau dan kemudian bertanya, "Kerbau,"

"Iya kancil. Ada apa?" jawab kerbau sambil menoleh. 

Kancil kembali bertanya, "Kenapa kamu akrab sekali dengan kura-kura?," 

Mendengar pertanyaan dari kancil, kerbau menjawab, "Karena dia sangat baik dan tidak sombong."

"Benar kah?," timpal kancil heran. 

"Iya, benar." kata kerbau meyakinkan. 

"Hm, baiklah. Aku mau cari buah dahulu," balas kancil yang pergi meninggalkan kerbau. 

Kancil tidak percaya dengan perkataan kerbau. Ia akan bertanya lagi kepada ibu rusa tentang kura-kura. 

Setelah bertemu dengan ibu rusa, kancil bertanya, "Ibu rusa, boleh kah aku bertanya sesuatu?"

"Iya, silahkan," jawab ibu rusa pada kancil. 

"Aku lihat, tadi engkau sangat akrab dengan kura-kura," tanya kancil. 

"Ya, memang. Sebab kura-kura sangat baik. Ada apa kancil?," kata ibu rusa. 

"Hehehe. Tidak ada apa-apa, ibu rusa," jelas kancil.

Ia kemudian pergi meninggalkan ibu rusa dan bergumam penuh rasa iri.

"Semua berpihak pada kura-kura. Tidak ada yang mengatakan aku baik, seperti yang dibilang kerbau dan ibu rusa pada kura-kura. Teman kura-kura juga lebih banyak daripada aku," kata kancil kesal. 

Kancil pun berencana jahat pada kura-kura agar dijauhi oleh teman-teman binatang lain. 

"Aku harus cari ide agar semuanya menghindari kura-kura. Aku akan mengatakan sesuatu yang buruk pada kerbau dan ibu rusa tentang kura-kura," ungkap kancil. 

Kancil merasa iri pada kura-kura sehingga ia memiliki niat jahat dan anak mencari kerbau serta ibu rusa untuk mengatakan sebuah kebohongan. 

Kemudian, kancil bergegas menemui kerbau, "Kerbau! Gawat. Kamu harus berhati-hati dengan kura-kura," kata kancil. 

"Kenapa kancil?" jawab kerbau sembari bertanya. 

"Tadi, aku lihat kura-kura membawa minum untuk merpati. Namun, setelah merpati meminumnya, ia langsung kejang-kejang dan kura-kura meninggalkannya," cerita kancil. 

Kerbau yang mendengar cerita itu langsung ketakutan.

"Aku tidak mau berteman lagi dengan kura-kura," kata kerbau. 

Kancil pun tertawa dalam hati sambil berujar, "Hahaha. Aku berhasil!"

Tidak hanya sampai di situ, kancil juga menemui ibu rusa agar rencana untuk menjauhi kura-kura berhasil. 

Saat bertemu ibu rusa, kancil kembali menceritakan kebohongan tentang kura-kura. 

"Ibu rusa! Ibu rusa! Ibu rusa!" teriak kancil dengan keras memanggil ibu rusa. 

"Ada apa kancil? Tenanglah," jawab ibu rusa. 

"Lebih baik jaga anak-anakmu dengan baik, ibu rusa. Aku tadi melihat kura-kura memberikan buah pada anak-anak tupai. Lalu mereka pun mati. Dengan bahagianya, kura-kura tertawa," jelas kancil berbohong. 

"Apa? Tega sekali dia. Terima kasih, kancil. Aku akan menjaga anak-anakku," jawab ibu rusa. 

Kancil kembali tertawa dalam hati dan bergembira karena merasa rencananya berhasil. 

Sehabis kebohongan yang diceritakan kancil pada kerbau dan ibu rusa, kura-kura mulai dijauhi. 

Suatu hari, kura-kura bertemu dengan kerbau. Dengan sikap ramah dan penuh senyum seperti biasa, kura-kura menyapa kerbau, "Selamat pagi," 

Namun, kerbau tidak menjawab perkataan kura-kura sama sekali. Lalu, kerbau langsung pergi meninggalkan kura-kura begitu saja. 

Kura-kura tidak merasa curiga. Ia kembali berjalan menyusuri hutan dan ketika bertemu ibu rusa, kura-kura kembali menyapa.

"Selamat pagi, ibu rusa," kata kura-kura. 

Sama seperti kerbau, ibu rusa juga tidak menjawab sapaan si kura-kura. Ibu rusa lalu meninggalkan kura-kura. 

Kura-kura mulai curiga dan bertanya, mengapa teman-temannya berubah menjadi tidak peduli. Bahkan, seolah-olah benci pada dirinya. 

Padahal, kura-kura tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Ia tetap bersikap baik pada semua binatang. 

"Ada apa dengan teman-temanku? Kenapa semuanya menghindar?, kata kura-kura sedih. 

Ia pun berusaha mencari tahu dengan bertanya pada kancil. Kura-kura lalu bergegas mencari kancil. 

"Kancil!" sapa kura-kura. 

"Hai kura-kura. Ada apa?," jawab kancil. 

"Ada apa dengan teman-teman kita? Kenapa mereka semua menjauhiku?," tanya kura-kura penasaran. 

"Tidak tahu," jelas kancil.

"Kancil, ayolah. Jawab dengan jujur," bujuk kura-kura. 

"Aku tidak tahu!" kata kancil dengan kesal. 

"Ayolah, kancil. Jawab pertanyaanku dengan jujur," tanya kura-kura dengan penuh harap. 

Semakin jengkel dengan pertanyaan kura-kura, kancil kemudian pergi sambil berteriak, "Tidak tahu! Dasar cerewet!"

Kancil tidak mau jujur atas perbuatannya yang dilakukan pada kura-kura. Ia terus berjalan meninggalkan kura-kura begitu saja. 

"Rasakan! Memangnya enak tidak punya teman," gumam kancil sambil berjalan. 

Di kejauhan, kura-kura merasa sedih dan juga kecewa, "Kancil, kamu benar-benar teman yang kejam."

Kancil masih tidak peduli. Ia terus pergi menjauhi kura-kura. Kancil merasa bangga karena rencana jahatnya berhasil.

Namun, tidak lama setelah itu. Kancil tiba-tiba terjatuh ke dalam lubang besar di hutan. 

"Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba masuk dalam jebakan? Oh, tidak!," kata kancil panik. 

Kancil berusaha meminta bantuan dengan cara berteriak. "Tolong! Tolong! Tolong!"

Setelah beberapa kali mencari pertolongan ia merasa putus asa, "Aduh, tidak ada yang mendengar. Aku takut. Tolong!" 

Kancil terus berteriak dari dalam lubang perangkap yang gelap. 


no image

Timun Mas dan Raksasa - Dongeng Tanah Jawa


Alkisah di sebuah desa di daerah Jawa Tengah, hidup seorang janda paruh baya yang bernama Mbok Srini. Sejak ditinggal oleh suaminya beberapa tahun, ia hidup sebatang kara, ia pun juga tak memiliki anak.

Karena kesepian, ia sangat mengharapkan kehadiran seorang anak, namun sayangnya harapan itu pupus karena suaminya telah meninggal dunia.

Mbok Srini hanya dapat menunggu keajaiban untuk bisa memiliki anak. Ia berharap keajaiban terjadi padanya, dengan selalu berdoa siang dan malam kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar dapat diberikan anak.

Pada suatu malam, harapan itu datang lewat mimpinya. Dalam mimpinya, Mbok Srini didatangi sesosok raksasa yang menyuruhnya pergi mengambil sebuah bungkusan di bawah pohon besar di hutan tempat biasanya ia mencari kayu bakar. Saat terbangun di pagi hari, Mbok Srini hampir tidak percaya dengan mimpinya semalam.

“Mungkinkah keajaiban akan benar-benar terjadi padaku?” Ia pun bertanya dalam hati dengan ragu.

Namun, Mbok Srini berusaha menghilangkan keraguan hatinya. Dengan penuh harapan, ia bergegas menuju ke hutan yang ditunjuk oleh raksasa itu. Setibanya di hutan, ia mencari bungkusan yang berada di bawah pohon besar.

Namun ia justru sangat terkejut saat menemukan bungkusan yang dikiranya berisi seorang bayi, tetapi isinya hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun kembali bertanya-tanya.

“Apa maksud raksasa itu memberikanku sebutir biji timun?” ucap Mbok Srini dengan bingung.

Di tengah kebingungannya, tanpa disadari ada sesosok raksasa berdiri di belakangnya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ha… ha… ha…!” demikian suara tawa raksasa itu.

Mbok Srini pun terkejut sambil membalikkan badannya. Betapa terkejutnya ia karena raksasa itulah yang hadir dalam mimpinya. Ia pun menjadi ketakutan.

“Ampun, Tuan Raksasa! Jangan memakanku! Aku masih ingin hidup,” Mbok Srini memohon dengan muka pucat.

“Jangan takut, hai perempuan tua! Aku tidak akan memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?” tanya raksasa itu.

“Be… benar, Tuan Raksasa!” jawab Mbok Srini dengan gugup.

“Kalau begitu, segera tanam biji timun itu! Nanti kamu akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku saat ia sudah dewasa. Karena anak itu akan kujadikan santapanku,” ujar raksasa itu.


Karena begitu besar keinginannya untuk memiliki anak, tanpa sadar Mbok Srini menjawab, “Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak itu kepadamu.”

Setelah Mbok Srini selesai memberikan kesediaannya, raksasa itu pun menghilang. Kemudian ia segera menanam biji timun itu di ladangnya. Dengan penuh harapan, setiap hari ia merawat tanaman itu dengan baik. Dua bulan kemudian, tanaman itu pun mulai berbuah. Namun anehnya, tanaman timun itu hanya berbuah satu.

Semakin hari buah timun menjadi semakin besar melebihi buah timun pada umumnya. Warnanya pun sangat berbeda, karena berwarna kuning keemasan. Ketika buah timun sudah masak, Mbok Srini memetiknya timun yang berat dengan susah payah ke gubuknya.

Betapa terkejutnya ia ketika membelah buah timun itu. Ia melihat seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Saat akan menggendongnya, bayi itu tiba-tiba menangis.

“Ngoa… ngoa… ngoa… !!!” demikian suara bayi itu.

Alangkah bahagianya hati Mbok Srini mendengar suara tangisan bayi yang sudah lama dirindukannya itu. Ia pun memberi nama bayi itu Timun Mas.

“Cup… cup… cup..!!! Jangan menangis anakku sayang… Timun Mas!” hibur Mbok Srini.

Perempuan paruh baya itu tak dapat menyembuyikan kebahagiaannya. Hingga air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Perasaan bahagia itu membuatnya lupa dengan janjinya bahwa dia akan memberikan bayi itu kepada raksasa suatu saat kelak.

Ia merawat dan mendidik Timun Mas dengan rasa kasih sayang hingga tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Mbok Srini sangat bangga, karena selain cantik, Timun Mas juga memiliki kecerdasan yang luar biasa dan sifatnya yang baik. Oleh karena itu, ia sangat sayang kepadanya.

Suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi oleh raksasa yang memberi pesan kepadanya bahwa seminggu lagi ia akan datang menjemput Timun Mas. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri.

Hatinya pun menjadi sedih, karena ia akan berpisah dengan anak yang sangat disayanginya. Ia baru menyadari bahwa raksasa itu ternyata adalah raksasa yang jahat, karena Timun Mas akan dijadikan santapannya!

Melihat Mbok Srini sering duduk termenung, Timun Mas pun bertanya-tanya dalam hati. Suatu sore, Timun Emas memberanikan diri untuk menanyakan kegundahan hati yang dirasakan oleh ibunya.

“Bu, mengapa akhir-akhir ini Ibu selalu tampak sedih?” tanya Timun Mas.

Sebenarnya Mbok Srini tidak ingin menceritakan penyebab kegundahan hatinya, karena dia tidak ingin anaknya itu ikut bersedih. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun menceritakan asal-usul Timun Mas yang dirahasiakan selama ini.

“Maafkan Ibu, Anakku! Selama ini Ibu merahasiakan sesuatu kepadamu,” kata Mbok Srini dengan wajah sedih.

“Rahasia apa, Bu?” tanya Timun Mas penasaran.

“Ketahuilah, Timun Mas! Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung Ibu yang lahir dari rahim Ibu.” Jawab Mbok Srini

Belum selesai ibunya bicara, Timun Mas tiba-tiba menyela.

“Apa maksud, Ibu?” tanya Timun Mas.

Mbok Srini pun menceritakan semua rahasia tersebut hingga mimpinya semalam bahwa sesosok raksasa akan datang menjemput anaknya itu untuk dijadikan santapan. Mendengar cerita itu, Timun Mas menjadi kaget seolah-olah tidak percaya.

“Aku tidak mau ikut bersama raksasa itu. Aku sangat sayang kepada Ibu yang telah mendidik dan membesarkan Timun,” kata Timun Mas.

Mendengar perkataan Timun Mas, Mbok Srini kembali termenung. Ia mencari cara agar anaknya selamat agar tidak menjadi santapan raksasa itu. Sampai pada hari yang telah dijanjikan oleh raksasa itu, Mbok Srini belum juga menemukan jalan keluar. Hatinya pun mulai cemas. Dalam kecemasannya, tiba-tiba ia menemukan sebuah akal.

Ia menyuruh Timun Mas agar berpura-pura sakit. Dengan begitu, raksasa tidak akan mau menyantapnya. Saat matahari mulai senja, raksasa itu pun mendatangi gubuk Mbok Srini.

“Hai, Perempuan Tua! Mana anak itu? Aku akan membawanya sekarang,” pinta raksasa itu.

“Maaf, Tuan Raksasa! Anak itu sedang sakit keras. Jika kamu menyantapnya sekarang, tentu dagingnya tidak enak. Bagaimana kalau tiga hari lagi kamu datang kemari? Saya akan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu,” bujuk Mbok Srini yang mencoba mengulur waktu hingga ia menemukan cara agar Timur Mas bisa selamat.

“Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus berjanji akan menyerahkan anak itu kepadaku,” kata raksasa itu.

Setelah Mbok Srini berjanji, raksasa itu pun menghilang. Mbok Srini kembali bingung untuk mencari cara lain. Akhirnya, ia menemukan cara yang untuk dapat menyelamatkan anaknya dari raksasa. Ia akan meminta bantuan kepada seorang pertapa yang tinggal di sebuah gunung.


“Anakku! Besok pagi-pagi sekali Ibu akan pergi ke gunung untuk menemui seorang pertapa. Dia adalah teman almarhum suami Ibu. Barangkali dia dapat membantu kita untuk menghentikan niat jahat raksasa itu,” ungkap Mbok Srini.

“Benar, Bu! Kita harus membinasakan raksasa itu. Karena aku tidak mau menjadi santapannya,” jawab Timun Mas.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, berangkatlah Mbok Srini ke gunung itu. Sesampainya di sana, ia langsung menemui pertapa itu dan menyampaikan maksud kedatangannya.

“Maaf, Tuan Pertapa! Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan kepada Tuan,” kata Mbok Srini.

“Apa yang bisa kubantu, Mbok Srini?” tanya pertapa itu.

Mbok Srini pun menceritakan masalah yang sedang dihadapi anaknya. Mendengar cerita Mbok Srini, pertapa itu pun bersedia membantu.

“Baiklah, tunggu di sini sebentar!” ujar  pertapa itu seraya berjalan masuk ke dalam ruang rahasianya.

Tak berapa lama, pertapa itu kembali sambil membawa empat buah bungkusan kecil, lalu menyerahkannya kepada Mbok Srini.

“Berikanlah bungkusan ini kepada anakmu. Keempat bungkusan ini masing-masing berisi biji timun, jarum, garam dan terasi. Jika raksasa itu mengejarnya, suruh sebarkan isi bungkusan ini!” jelas pertapa itu.

Setelah mendapat penjelasan itu, Mbok Srini pulang membawa keempat bungkusan tersebut. Setiba di gubuknya, Mbok Srini menyerahkan keempat bungkusan itu dan menjelaskan tujuannya kepada Timun Mas. Kini, hati Mbok Srini mulai agak tenang, karena anaknya sudah mempunyai senjata untuk melawan raksasa itu.

Dua hari kemudian, Raksasa itu pun datang untuk menagih janjinya kepada Mbok Srini. Ia sudah tidak sabar lagi ingin membawa dan menyantap daging Timun Mas.

“Hai, perempuan tua! Kali ini kamu harus menepati janjimu. Jika tidak, kamu juga akan kujadikan santapanku!” ancam raksasa itu.

Mbok Srini tidak gentar lagi menghadapi ancaman itu. Dengan tenang, ia memanggil Timun Mas agar keluar dari dalam gubuk. Tak berapa lama, Timun Emas pun keluar lalu berdiri di samping ibunya.

“Jangan takut, Anakku! Jika raksasa itu akan menangkapmu, segera lari dan ikuti petunjuk yang telah kusamapaikan kepadamu,” Mbok Srini membisik Timun Mas.

“Baik, Bu!” jawab Timun Mas.

Melihat Timun Mas yang benar-benar sudah dewasa, rakasasa itu semakin tidak sabar ingin segera menyantapnya. Ketika ia hendak menangkapnya, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya. Raksasa itu pun mengejarnya. Tak ayal lagi, terjadilah kejar-kejaran antara makhluk raksasa itu dengan Timun Mas.

Setelah berlari jauh, Timun Mas mulai kecapaian, sementara raksasa itu semakin mendekat. Akhirnya, ia pun mengeluarkan bungkusan pemberian pertapa itu.

Pertama-tama Timun Mas menebar biji timun yang diberikan oleh ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.

Timun Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum tersebut berubah menjadi rerumbunan pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walaupun kakinya berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut.

Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan mudah.

Timun Emas pun mulai cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka tamatlah riwayatnya.

Dengan penuh keyakinan, ia pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Seketika itu pula, tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba menjelma menjadi lautan lumpur yang mendidih. 

Alhasil raksasa itu terkalahkan karena tercebur ke dalam lautan lumpur dan tewas seketika. Maka selamatlah Timun Emas dari kejaran dan santapan raksasa itu.

Dengan sekuat tenaga, Timun Mas berjalan menuju ke gubuknya untuk menemui ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.